SYUKUR KEPADA ALLAH (Ramadhan: Bulan Yang Patut Disyukuri) (Ceramah Bag.7)

Posted on August 18, 2010

0


puasa pic

  1. Jamaah qiyamur ramadhan yang berbahagia. Marilah  pertama-tama kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt, bahwa hari ini kita masih dapat menjalani ibadah puasa dan ibadah shalat tarawih berjamaah. Ajakan syukur ini bertepatan  dengan topik ceramah ramadhan yang ditetapkan  panitia kepada saya, yaitu “Bersyukur kepada Allah swt.”.

  1. Terlalu  banyak nikmat Allah kepada kita,  sehingga  tidak mungkin kita menghitungnya. Allah menyatakan dalam Al Qur’an  (Q.S.. Ibrohim : 34 ) :

34. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguh-nya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).

Karena demikian banyaknya nikmat Allah itu, maka Allah mengingatkan (sekaligus  “menantang”) kita berulang kali  dalam Q.S. Ar-rakhman ayat 13 dst. (31 kali) :

“Dan nikmat Allah manakah yang engkau dustakan?”

  1. Salah satu ni’mat Allah yang sepatutnya kita syukuri ialah datangnya bulan Ramadhan, karena berbagai alasan :
    1. Pertama, karena Ramadhan menguji keimanan kita.  Dengan kita dapat menjalani puasa dan melaksa-nakan jamaah  tarawih  sampai malam ini, menan-dakan bahwa  Allah  masih memberikan nikmat yang terbesar kepada kita, yaitu nikmat “iman dan islam”; di samping tentunya nikmat  kesehatan dsb. Tanpa iman dan kesehatan, tidak mungkin kita mampu melaksanakan ibadah puasa dan shalat dengan baik.

Masih terpeliharanya  kualitas “iman dan  islam”  kita sampai hari ini sepatutnya disyukuri, karena ada  orang lain yang hatinya/imannya tetap membeku atau tidak teruji  kualitasnya, sehingga ia tidak mampu  melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan ini.

  1. Kedua,  kita patut bersyukur karena Ramadhan  merupakan “sistem daur ulang (recycling)” atau “proses peremajaan kembali (rejuvenation)”, proses  “penyuntikan  kembali (reinjection)”,  proses “pengu-atan kembali  (reinforcement)”, proses “kebangkitan/ kelahiran kembali  (regeneration)”, proses “pemben-tukan kembali (reconstruction)” dan proses “pemba-haruan kembali (reformation)” yang dibuat Allah untuk memelihara dan meningkatkan :

–      kualitas “Imtaq, ilmu, dan amal” ;

–      kualitas “kematangan jiwa, kematangan ilmu, dan kematangan kepekaan/kepedulian sosial”;

–      kualitas  kemanusiaan  dan  kemasyarakatan / lingkungan hidup; atau

–      kualitas hidup dan kehidupan.

  1. Ketiga, karena puasa itu sendiri sarat dengan  berbagai kenikmatan, a.l. :

*    “ni’mat berbuka” : nikmat  yang paling utama adalah nikmat  pada  saat berbuka, yang tidak dapat dirasakan oleh orang yang tidak melakukan puasa;

*     “ni’mat bertemu dengan Tuhannya disebabkan puasanya” berdasarkan hadist ”lis Shooimi Farhatani yafrohu-huma : idza afthoro fariha bifitrihi wa idza laqiya robbahu fariha bishoimihi”. Selain itu, pahala puasa Ramadhan hanya Allah yang akan membalasnya (berdasarkan hadist “kullu ‘amalibni adama lahu, illas shouma fainnahu li wa ana ajzi bihi”).

*    “ni’mat kenyang/berkecukupan” :  selama menja-lani puasa, kita bisa benar-benar merasakan betapa nikmatnya “kenyang” (bisa  makan-minum atau  “berkecukupan”) dibandingkan  dengan  “lapar” (serba kekurangan); betapa nikmatnya “sehat” dibandingkan dengan “sakit”;

*    “ni’mat  ibadah” yang beraspek ganda  (vertikal/ horizontal) : selama Ramadhan ada kenikmatan berupa kemudahan/keringanan  dalam menjalan-kan ibadah  shalat  (bangun shubuh biasanya sulit; apalagi shalattul lail), ada kemudahan membaca Al-Qur’an atau  mendalami/ memperoleh ilmu agama lewat berbagai media (jadi ada “ni’mat  ilmu“); ada “ni’mat  amal/sosial”  (keringanan untuk memberi/ menerima infak dan ibadah sosial lainnya; ada “ni’mat silaturrahmi” (minimal lewat  shalat berja-maah);

*    “ni’mat barokah/pahala/ganjaran : – dalam bulan Ramadhan (sebagai  “syahrun mubarok“), Allah melipatgandakan pahala, a.l. dalam hadits disebut-kan, bahwa :

  1. satu langkah mendatangi majlis ilmu = 1 tahun ibadah;
  2. tiap rakaat shalat jamaah = 1 kota kenikmatan;
  3. taat pada orang tua à mendapat kasih sayang Allah dan Nabi menanggung dalam surga;
  4. istri mencari keridhoaan suami, pahalanya seperti Siti A’isyah dan Siti Maryam;
  5. mencukupi kebutuhan saudaranya,  akan  dicukupi 1000 kebutuhannya di hari qiyamat;
  6. tidurnya = ibadah (“naumu shoim ‘ibadah“);
  7. diamnya = tasbih (“washumtuhu tasbih“);
    1. amalnya, dilipatgandakan (“wa’amaluhu  mudho ‘afah“);
    2. doanya, dikabulkan (“wa du’auhu mustajabun“);
    3. dosanya, diampuni (“wa dzambuhu maghfur“).

*    “ni’mat maghfiroh” : – Berdasarkan hadits “man shoma romadhona imanan  wahtisaaban  ghufirolahu maa taqoddamu  min  dzambih“, maka bulan Rama-dhan jelas merupakan “bulan  pengampunan/amnesti besar-besaran” dari Allah. Mendapat pengampunan jelas suatu kenikmatan, terlebih secara tidak kita sadari mungkin terlalu banyak dosa yang kita lakukan selama 11 bulan yang lalu.

  1. Terhadap banyaknya nikmat (pemberian) Allah itu, Allah tidak minta  “imbalan” apa-apa kepada kita,  kecuali  hanya meminta kita “bersyukur” dan “ingat” kepada-Nya.

a. Allah berfirman dalam Q.S. An-Nahl : 114:

wasykuruu ni’matallahi in kuntum iyyahu ta’buduun”

(Dan syukurilah ni’mat Allah, jika hanya kepadaNya kamu menyem-bah).

b. Q.S. Al-Baqoroh : 152 :

“Ingatlah kepada-KU, niscaya AKU ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-KU, dan jangan kamu mengingkari (nikmat)-KU”.

c.  Q.S.. Ibrohim : 7 :

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguh-nya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

  1. Bersyukur  atas nikmat Allah, tentunya per-tama-tama  harus “ingat”  kepada pemberi nikmat (Allah).  “Ingat”  (dzikir) kepada  Allah mengandung makna yang sangat  luas.  Intinya ialah : “ingat akan segala perintah dan larangannya”. Adapun bentuk/perwujudannya dapat bermacam-macam :

–      syukur bil-lisan; syukur bil-arkan; syukur bil-qolbi;

–      syukur bil-arkan a.l. melaksanakan shalat, puasa, zakat/berinfak/shodaqoh/menolong penderitaan orang lain, dsb.

Semoga kita semua termasuk orang yang pandai bersyukur.