RAMADHAN : BULAN PENINGKATAN KUALITAS KAJIAN AL-QUR’AN (Ceramah Bag.8)

Posted on August 18, 2010

0


Al Qur'an dan tasbih

1.  TURUNNYA AL-QUR’AN:

  1. Diturunkan di bulan Ramadhan (Al-Baqarah: 185) :

”syahru romadhonal ladzi unzila fiihil quran, hudal linnaas wa bayyinatim minal hudaa wal furqon”

“Bulan Ramadhan, bulan yg. dalamnya diturunkan Al- Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk-petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan bathil)”.

  1. Diturunkan  oleh Allah, Tuhan semesta alam  dan  dibawa oleh  Ruh Al-Amin/Jibril, bukan oleh setan  (Q.S..  Asy-Syu’ara) :

–      ayat 192 :

“Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan Semesta Alam”.

–      ayat 193 :

“Dia dibawa turun oleh Ar- Ruh Al-Amin (Jibril)”.

–      ayat 210 :

“Dan Al Qur’an itu bukanlah  dibawa oleh syaitan-syaitan”.

–      ayat 211 :

“Dan tidaklah patut mereka (setan) membawa Al Qur’an itu dan tidak akan kuasa”.

  1. Diturunkan dengan ILMU ALLAH (Q.S. Hud:14) :

Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu maka ketahuilah, sesungguhnya Al Quran itu diturunkan dengan ilmu Allah, dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)?

2.  Al Qur’an MERUPAKAN “ANUGERAH TER-MULIA” :

  1. Sebagai “rahmat” (Al-Qoshosh:86):

Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al Quran diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu menjadi penolong bagi orang-orang kafir.

  1. Di  dalam  Al-Qur’an terdapat “rahmat  dan  pelajaran”  (Al- Ankabut: 51) :

Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Quran) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.

  1. Al-Qur’an merupakan “penawar/obat dan rahmat” (Al-Isro’:82):

Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.

  1. Al-Qur’an mengandung “hikmat, petunjuk dan rahmat”  (Luqman:1-3) :

“(1) Alif laam miim; (2) Inilah ayat-ayat Al-Qur’an yang mengan-dung  hikmah; (3) menjadi petunjuk dan rahmat  bagi orang-orang yang berbuat kebaikan”.

  1. Al-Qur’an memberi “petunjuk ke jalan yang lurus”  (Al-Isro’: 9) dan membawa “kebenaran” (Al-Isro’:105) :

–      (Ayat 9) :

Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.

–      (Ayat 105) :

Dan Kami turunkan (Al Quran) itu dengan sebenar-benarnya dan Al Quran itu telah turun dengan (membawa) kebenaran. Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.

  1. Al-Qur’an diturunkan “tidak untuk kesusahan” (Thoha:2) :

“Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu mendapat kesusahan”.

  1. Al-Qur’an “mudah untuk pelajaran” (Al-Qomar: 17, 22, 32, 40) :

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk  pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”

  1. Al-Qur’an membawa “kemuliaan dan berkah” (Al-Anbiya’) :

–      (Ayat 10) :

“Sesungguhnya telah Kami turunkan kepadamu sebuah Kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu; maka apakah kamu tidak memahaminya?”

– (Ayat 50) :

“Dan Al-Qur’an ini adalah suatu Kitab (peringat-an) yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan; maka mengapa kamu mengingkari-nya?”.

  1. Al-Qur’an : “tidak ada keraguan” dan “pe-tunjuk”  (Al-Baqoroh ayat 2) :

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya,  petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”.

  1. Al-Qur’an : “bacaan yang mulia” (Al-Waqiah) :

Allah bersumpah (ay. 75), dengan sumpah yang besar (ay.), bahwa :

–      “Sesungguhnya Al-Qur’an itu, BACAAN YANG SANGAT MULIA” (ayat 77);

“Diturunkan dari Tuhan        Semesta Alam” (ay.80)

.

–      “Maka apakah kamu menganggap REMEH saja Al-Qur’an ini?” (ayat 81).

  1. Al-Qur’an diturunkan “bukan main-main” (At-Thoriq:14) :

“Dan sekali-kali bukanlah dia (Al-Qur’an) senda gurau (bukan main-main)”.

3.  AL-QUR’AN HARUS DIPELAJARI (JANGAN DIREMEH-KAN/DILUPAKAN) :

*    Di dalam Q.S. Thoha:126, Allah menegaskan, bahwa “barang siapa  meremehkan/ melupakan Al-Qur’an, maka pada  hari  akhir nanti Allah-pun akan melupa-kannya/tidak-peduli” :

Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan.”

*    Pengertian “meremehkan” dapat mengandung arti :

  1. melalaikan “Kitab-Nya” :

–        tidak memiliki Al-Qur’an (sedang buku-buku lain punya);

–        memiliki Al-Qur’an tetapi hanya hiasan/ dipajang dan  tidak dibaca (sedang buku lain dibaca/ dipelajari);

  1. melalaikan “ISI-nya”, a.l. :

–        menghindari/tidak menghadiri pengajian;

–        hadir dalam pengajian, tetapi ngantuk, ngobrol sendiri, pacaran dsb.;

–        tidak melaksanakan isi Al-Qur’an.

4.  RAMADHAN : BULAN MEMPELAJARI AL-QUR’AN (BUKAN SEKEDAR “MEMPERI-NGATI” AL-QUR’AN)

*    Berbagai nama lain Al Qur’an menunjukkan fungsi Al- Qur’an bagi kehidupan manusia. Apakah sebagai petunjuk, sebagai pemberi kabar terhadap segala keterbatasan manusia, sebagai pembeda terhadap apa yang baik dan tidak baik bagi manusia, sebagai pemberi peringatan terhadap tingkahlaku manusia, sebagai sumber ilmu pengetahuan sampai berfungsi sebagai pengobat hati dan fisik manusia.

*    Turunnya Al-Qur’an di bulan Ramadhan, bukan sekedar untuk diperingati, tetapi untuk dipelajari dan diamalkan. Jadi, Ramadhan  bukan sekedar bulan memperingati Al-Qur’an,  tetapi bulan yang setiap harinya Al-Qur’an memberi peringatan (petunjuk) kepada kita. Tidak mungkin Al-Qur’an menjadi “huda” (petunjuk/pedoman) kalau tidak pernah dipelajari.

*    Di dalam Q.S. Al-Fathir:29, Allah mendahulukan/ mengutamakan “yatluuna Kitaballah” (“membaca/ mempelajari Al-Qur’an” atau  identik dengan “menuntut ILMU”)  dari pada  “aqomush sholah” (simbol “IMTAQ”) dan “anfaquu mimma rozaqnaahum” (berinfak, simbol “AMAL”). Namun ditegaskan, bahwa  ketiga-tiganya  (ILMU, IMTAQ, AMAL) merupakan  “perniagaan yang tidak akan merugi”.

Lengkapnya firman Allah itu berbunyi sbb.:

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”.

Ceramah Ramadhan IX

AL-QUR’AN DAN CINTA ILMU PENGETAHUAN*)

1.  Topik  ceramah Ramadhan yang ditetapkan panitia malam  ini ialah  “Al-Qur’an dan ajakan untuk mencintai pengetahuan”. Membicarakan masalah Al-Qur’an dalam bulan Ramadhan  memang merupakan hal yang wajar dan bahkan seharusnya, karena karakteristik Ramadhan tidak hanya masalah “puasa”. Sebagaimana disebut dalam Q.S.. Al-Baqoroh ayat 183; tetapi karakteristik Ramadhan ialah bulan turunnya Al-Qur’an  sebagai-mana  disebutkan dalam Q.S. Al-Baqoroh ayat 185, bahwa :

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara haq dan bathil)”.

Jadi karakteristik Ramadhan terfokus pada dua hal :

a.  bulan diwajibkannya kita berpuasa; dan

b.  bulan turunnya Al-Qur’an untuk dipelajari.

2.  Karakteristik Ramadhan itu (kewajiban puasa dan kewajiban mempelajari Al-Qur’an), pada hakikatnya merupakan “metode Allah” untuk memelihara dan meningkatkan kualitas  manusia dan kehidupan. Maha  Besar Allah yang sangat mengetahui kualitas  manusia yang diciptakannya, yaitu sebagai makhluk yang “dhoif”/lemah  (“wa khuliqol insaanu dhoifaan”; Q.S..  An-Ni-saa’:28).  Oleh karena itu, Maha Besar Allah pulalah yang  mengetahui cara/metode bagaimana untuk meningkatkan kualitas  manusia yang lemah itu. Caranya yaitu dengan menjadikan bulan Ramadhan  sebagai bulan untuk proses daur ulang  (“recycling“) dalam rangka meningkatkan kembali kualitasnya. Jadi  Ramadhan dijadikan bulan untuk melakukan “rejuvenation”,  “reinjection”, “regeneration”, “reinforce-ment”, “renovation“,  dan “reformation” kualitas kema-nusiaan dan sekaligus kualitas kehidupan/kemasya-rakatan.

3.  Apa yang perlu di-“daur-ulang”, diperbaiki dan  ditingkat-kan kualitasnya? Maha Besar Allah yang menciptakan manusia terdiri dari struktur/organ fisik berupa ”kepala” dan ”perut” serta organ non-fisik “akal”   dan “hati”. Kedua organ itu sangat fital. Oleh karena itu kedua organ itulah  yang  paling penting  untuk diproses daur-ulang selama bulan  Ramadhan, yaitu dengan cara :

  1. “perut” (sebagai simbul nafsu materi/simbul keta-makan, dan simbul kesejahteraan) didaur-ulang dengan disuruh “puasa”. Dengan “puasa perut” diharapkan dapat  didaur-ulang kualitas “hati/Imtaq”*) sehingga diharapkan dapat mengendalikan nafsu perut (karena dapat menjadi sumber segala keru-sakan, baik rusak akal, badan dan jiwa), dan sekaligus menuntun nafsu perut itu ke arah yang positif, yaitu kualitas kematangan/ kepedulian/ kepekaan sosial;
  2. “kepala” (sebagai simbul ”akal”/ilmu/pengetahuan/ konsep/nalar) didaur-ulang dengan disuruh mempela-jari “Al-Quran”; Sasarannya adalah peningkatan kualitas kematangan konseptual/tuntunan dan keilmuan dalam berkehidupan.

4.  Mengapa dikatakan, bahwa Al-Qur’an dapat mening-katkan  kualitas kematangan  konseptual dan keilmuan dalam berbagai  bidang kehidupan? Karena Allah sendiri menyatakan (dengan SUMPAH YANG BESAR, Q.S. Al-Waqiah:75-76), bahwa Al-Qur’an merupakan “BACAAN/KITAB/ILMU yang SANGAT MULIA” (“innahu laquraanun kariim“,  Q.S. Al-Waqiah:77) dan diturunkan dengan “ilmu Allah” (“annamaa unzila bi ‘ilmillaah; Q.S. Hud:14), yang di dalamnya mengandung sumber-sumber “petunjuk/pedoman/konsep/wawasan” dan “pelajaran/ilmu pengetahuan” (di bidang : sejarah, sosial, politik, ekonomi, hukum, etika, biologi, pengeta-huan alam, informasi/komunikasi dsb).

5.  Kalau Al-Qur’an dinyatakan sebagai “Bacaan/ kitab/ilmu yang  sangat  mulia”, maka sewajarnyalah ummat Islam  mempelajari/mendalaminya  dan tidak meremehkannya begitu  saja.  Allah berfirman di dalam Al-Qur’an :

  1. Al-Waqiah : 81 :

“Maka apakah kamu menganggap REMEH saja Al-Qur’an ini?”

  1. Dalam Q.S. Thoha: 126 Allah menegaskan, bahwa barangsiapa  meremehkan/melupakan  Al-Qur’an, maka pada  hari  akhir nanti Allah pun akan melupa-kannya/tidak mempedulikan.
  2. Selanjutnya Allah berfirman pula dalam Al-Qomar:17, 22, 32, 40 :

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk  pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”

  1. Al-Fathir:29 :

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu  membaca/mempelajari Kitab Allah (Al-Qur’an) dan mendirikan shalat, dan  menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”.

6.  Marilah kita jadikan bulan Ramadhan sebagai bulan mempelajari dan meningkatkan kualitas ILMU (Al-Qur’an), kualitas IMTAQ dan kualitas AMAL.


*) Ceramah Ramadhan (KULTUM) di Masjid Al-Azhar, Keruing Raya, Banyumanik,  Semarang,  24 Desember 1999 M (16 Ramadhan 1420 H).

*) tujuan puasa adalah ”taqwa” (Al-Baqoroh 183).