RAMADHAN: BULAN MULTI IBADAH (Ceramah Bag. 2)

Posted on August 18, 2010

0


puasa pic

A.Pengantar

Bulan Ramadhan merupakan :

–      bulan ibadah yang sangat komplit, multi dan simultan;

–      tidak hanya meningkatkan iman dan taqwa, tetapi juga ilmu dan amal;

–      tidak hanya bulan melatih pengendalian hawa nafsu, menahan  lapar/haus  dan merasakan  penderitaan  orang  lain (yang berarti bulan untuk mengasah/ mempertajam  kepekaan rasa kemanusiaan dan kemasyarakatan), tetapi juga merupakan bulan untuk mengasah akal/ilmu;  dengan kata lain : melatih kematangan  kejiwaan/kerokhanian/emosional/ethika dan kematangan intelek;

–      tidak hanya kematangan intelektual/rasional, tetapi yang penting “membersihkan dan memberi/mena-namkan nilai-nilai  rukhaniah/ kejiwaan pada akal”.

–      Jadi,  bulan Ramadhan “sarat/penuh dengan kuri-kulum  dan  silabi pendidikan manusia seutuhnya” (yang merupakan tujuan/sasaran pendidikan nasional; lihat GBHN dan UU  tentang Sistem Pendidikan  Nasional),  yaitu  mencakup kurikulum/kegiatan untuk :

a) Kematangan kejiwaan/rukhaniah, (“emotional/ethi-cal maturity“) : antara lain dengan kegiatan sholat lima waktu & tarawih; puasa itu sendiri dengan segala amalannya, pada hakikatnya pengendalian emosi/hawa-nafsu; tadarus, pendalaman nilai-nilai Qur’ani;

b) Kematangan intelek (intellectual maturity):

antara lain dengan kegiatan pengajian/diskusi ilmiah  mengenai  berbagai aspek ilmu keislaman, khusus-nya  kajian ilmiah mengenai berbagai aspek dari “puasa” dan  “malam lailatul qadar”;

Patut dicatat, bahwa salah satu karakteristik Ramadan adalah “diturunkannya Al-Qur’an” (Kitab/Bacaan/ILMU Allah) sebagaimana tersebut dalam Q.S. Al-Baqoroh: 185 :

Jadi jelas Ramadhan mengandung karakteristik keilmuan atau  kematangan intelektual. Bulan  Ramadhan,  bulan “gerakan MEMBACA/menuntut ILMU”; jadi merupakan bulan “memberantas kebodohan”.

c)    Kematangan sosial (social maturity) :

yaitu dengan kegiatan beramal, infaq, zakat dsb.

–      Jadi bulan Ramadhan mengandung TRILOGI  Kurikulum/Silabi yang mencakup masalah :  (1) Iman dan Taqwa; (2) Ilmu; dan (3) Amal;

–      Itulah  “kurikulum  lengkap”  (KURKAP)  atau  “kuriku-lum utuh”  (KURTUH) yang disebutkan di dalam Q.S. Al-Fathir ayat 29 sebagai “perniagaan yang tidak akan merugi” (“tijaarotan lan  tabuur“). Jadi jelas  merupakan  KURMINTU (kurikulum jaminan mutu).

Surat Al-Fathir:29 itu lengkapnya berbunyi sbb. :

“Sesungguhnya  orang-orang (1) yang membaca Kitab  Allah dan  (2) mendirikan shalat dan (3) menafkahkan  sebagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada  mereka dengan diam-diam dan terangterangan, mereka itu  mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”.

Perhatikan ketiga unsur kurikulum yang terkandung di dalam Q.S.. Al-Fathir di atas, yaitu :

1.  “Yatluuna kitaballah”   à ILMU.

2.  “aqoomush sholaah” à IMAN & TAQWA

3.  “anfaquu mimma rozaqnahum”  à AMAL

B.Ramadhan : bulan pendalaman agama.

Setelah  uraian umum/pengantar di atas, bahwa bulan  Ramadhan merupakan bulan yang sarat dengan berbagai kegiatan,  maka dalam  kesempatan  ini uraian akan difokuskan  pada  thema “Ramadhan sebagai bulan pendalaman agama/ilmu agama”.

  1. Pertama-tama patut dicatat, bahwa janganlah  di-“dikhotomi”-kan, bahwa :

– ilmu untuk “dunia”, dan

– agama untuk “akhirat”,

karena  Agama Islam (Al-Qur’an) pada hakikatnya tidak  hanya ilmu/petunjuk untuk akhirat, tetapi juga mengandung ilmu/petunjuk untuk dunia (tegasnya: untuk “bagaimana seharusnya hidup di dunia”). Oleh karena itu agama/ilmu agama pun harus dipelajari/ digali. Hadist Nabi:

man arodad dunya fa ‘alaihi bil ilmi wa man arodal akhirota fa alaihi bil ilmi faman aroda humaa fa alaihi bil ilmi

(“Barangsiapa menghendaki kebahagiaan (hidup) di dunia maka dengan ilmu, dan barangsiapa menghendaki kebahagiaan (hidup) di akhirat maka dengan ilmu, maka barangsiapa menghendaki kebahagiaan keduanya maka dengan ilmu).

  1. Mengapa (ilmu) agama perlu digali?

–        karena agama (petunjuk hidup) pada hakikatnya merupakan bagian dari “keperluan/ kebutuhan/ sarana/dukungan hidup” (“needs/means of living“).

Penjelasan :

–        Di dalam Q.S. Ar-Rum:40 ditegaskan,

Allah tidak hanya “menciptakan manusia” (“kholaqokum“), tetapi juga “memberinya rizki” (“rozaqokum“), kemudian “mematikannya” (“yumiitu-kum“) dan kemudian  “menghidupkannya kembali” (“yuhyiikum“).

–        Di dalam Q.S. Al-Hijr:20, Allah juga menyatakan :

“Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezki kepadanya”.

–        Pengertian “rozaqo”  mengandung arti “to support” (memberi dukungan)  dan “rizkun” mengandung arti “means of living” (sarana kehidupan). Jadi  dalam  pengertian “Allah memberi rizki”, artinya  Allah memberikan atau menyediakan juga “dukungan dan sarana/kebutuhan untuk hidup” bagi manusia.

–        Rizki (dukungan/sarana hidup) itu ada yang  bersifat  materi/bendawi (yaitu bumi dan seisi alam), tetapi juga ada yang bersifat immateri/non-bendawi, yaitu berupa hidayah/petunjuk/konsep-konsep kehi-dupan.

–        Jadi yang perlu digali, tidak hanya bumi dan alam semesta beserta isinya, tetapi juga agama sebagai petunjuk/konsep hidup perlu digali, dipelajari dan di-amalkan.

Catatan :

Disinilah  justru “ratio”-nya, mengapa  di dalam Q.S. Ar-Rum:40 di atas dinyatakan bahwa setelah manusia diberi rizki (a.l. berupa “Dien”, “hidayah/ petunjuk”) dan kemudian “dimatikan”, maka kemudian manusia akan  “dihidupkan kembali” (untuk  di-“pertanggungjawab”-kan). Artinya, apa-kah manusia itu telah menjalankan fungsi/misinya sebagai “kholifah fil ardl” (penguasa  di bumi) itu sesuai dengan  “petunjuk-petunjuk”- Nya atau tidak.

Jadi rationya adalah, tidak mungkin ada “pertanggungjawaban” kalau sebelumnya tidak ada “petunjuk/pedoman”.  Bandingkan dengan SK tugas/kepanitiaan  yang dibuat manusia. Setelah keluar SK pembentukan panitia (“dihidupkan & diberi petunjuk akan tugas-tugasnya”), diakhiri dengan laporan pertanggungjawaban panitia.

  1. Konsep/petunjuk hidup apa yang perlu digali? Konsep/petunjuk/ajaran yang perlu digali antara lain :

a)   Konsep ber-Ketuhanan atau konsep ibadah-vertikal (hubungan antara manusia dengan Tuhan).

Konsep ber-Ketuhanan YME atau konsep “tauhid” ini penting selalu dipahami, karena :

–      inilah  misi/risalah setiap Rasul Allah  di  dalam menghadapi pemikiran “jahiliyah”;

–      tidak mustahil pemikiran jahiliyah tetap ada  pada setiap masa (termasuk di zaman modern seperti saat ini).

Catatan :

Patut direnungi, mengapa Allah memberikan tuntunan/petunjuk/konsep Ketuhanan (konsep “tauhid”) kepada manusia? Kajian dan argumen-tasi mengenai hal  ini dapat  ditinjau  dari  berbagai  sudut.  Salah  satu alasannya ialah :

–        bahwa manusia menurut fitrahnya selalu mencari Tuhan atau selalu mengakui/mempercayai adanya “kekuatan/kekuasaan supranatural yang lebih besar di luar dirinya” (ini terbukti di dalam sejarah manusia), sehingga diutuslah Rasul Allah kepada setiap umat untuk memberi tahu/petunjuk bahwa hanya Allah sajalah yang sepatutnya disembah. Hal ini disebutkan di dalam Q.S. An-Nahl (16): 36:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu“, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”.

Diutusnya nabi Nuh, nabi Huud (kepada kaum “Aad), nabi Sholeh (kepada kaum Tsamud), nabi Syu’aib (kepada penduduk Madyan/’Aikah), nabi Luth, nabi  Musa, nabi Ibrohim dan nabi ‘Isa pada hakikatnya membawa  misi yang sama, yaitu mereka semua  menyerukan :

“Hai  kaumku, sembahlah Allah;  sekali-kali  tidak  ada bagimu Tuhan, selain Dia”. (Lihat antara lain surat Huud: 25-26, 50, 61 dan 84).

b)   Konsep hubungan sosial (berkehidupan sosial/ bermasyarakat) atau konsep ibadah-horizontal, termasuk hubungan  antar pribadi, di dalam kelu-arga,  di  dalam bertetangga, bermasyarakat dan bernegara.

Sebagian besar isi Al-Qur’an memuat petunjuk mengenai hal ini, antara lain :

  1. Q.S. 17 (Al-Isro): 23 s/d 38 :

–        jangan durhaka, berbuat tidak baik,  memben-tak/mengucapkan kata-kata menyakitkan kepada  orang  tua;

–        beramallah (jangan tidak memberikan hak) kepada keluarga terdekat, fakir miskin dan orang  yang dalam perjalanan;

–   jangan boros;

–   jangan terlalu kikir/terlalu pemurah;

–   jangan membunuh anak karena takut kemis-kinan;

–   jangan berzinah, jangan membunuh;

–   jangan makan harta anak yatim;

–   jangan ingkar janji dan tidak menyempurnakan timbangan/takaran.

  1. Q.S. 26 (Asy-Syu’aro): 183 :

–        jangan merugikan manusia akan hak-haknya;

–        jangan membuat kerusakan di bumi.

  1. Q.S. 16 (An-Nahl): 16 :

orang yang mendapat kelebihan rizki agar memberikan kepada budak-budak (karyawan/ buruh);

  1. Q.S. 4 (An-Nisaa’): 32 :

jangan iri hati terhadap kelebihan (rizki) orang lain;

  1. Dll. Konsep/ajaran yang sangat penting bagi kehidupan, a.l.:

–         konsep sabar (tahan uji/pengendalian diri);

–         jihad (bersungguh-sungguh/tekun);

–         amanah (jujur/dapat dipercaya);

–         pemurah/pemaaf (menolak kejahatan dengan  kebaikan).