PUASA : SARANA MELATIH SABAR (Ceramah Bag. 3)

Posted on August 18, 2010

0


puasa pic

A.Pengantar :

Pemilihan judul/thema ini sangat tepat, karena puasa (shaum) pada hakikatnya mengandung makna “mena-han diri”. Jadi erat hubungannya dengan “sabar”.

Kalau  Allah mewajibkan kita berpuasa, maka pada  hakikatnya kita diperintah atau diharapkan menjadi orang yang dapat “menahan diri” (sabar). Setidak-tidaknya dengan berpuasa, kita dilatih untuk menjadi orang yang sabar.

Timbul pertanyaan, mengapa kita diperintah untuk menjadi orang yang sabar? Mengapa pula sabar itu perlu  dilatih?

B.Kedudukan “sabar” dalam Al Qur’an :

–       Secara doktrinal, pertanyaan di atas dapat dijawab secara  singkat : “karena banyak firman Allah di dalam Al-Qur’an yang  memerintahkan kita untuk berlaku sabar”. Di  dalam Al-Qur’an, kurang lebih ada 90 ayat yang menyebut-nyebut masalah sabar ini. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya kedudukan “sabar” menurut Al-Qur’an (menurut Allah). Selanjutnya berarti pula, bahwa sabar itu penting bagi kebaikan/ kehidupan manusia itu sendiri.

–       Betapa pentingnya kedudukan sabar menurut Al-Qur’an terlihat pula dengan disejajarkan/dideretkan-nya masalah sabar ini dengan  firman-firman  Allah  yang  berhubungan   dengan “iman, shalat, taqwa dan jihad”.

  1. Disejajarkan dengan “iman dan shalat”, misalnya :
  2. Al-Baqoroh (2) :153 :

“Hai orang-orang beriman, jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta  orang-orang yang sabar”.

  1. Q.S. Thaahaa (20): 132 :

“Perintahkan keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. “.

  1. Q.S.. Ar-Ra’d (13): 22 :

“Orang-orang  yang mendapat tempat kesudahan yang baik  ialah :

(a)    orang-orang  yang  sabar karena mencari keridhoan Allah;

(b)    yang mendirikan shalat;

(c)     yang menafkahkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka secara  sembunyi atau terang-terangan,  serta

(d)    menolak kejahatan  dengan kebaikan”.

  1. Q.S.. Al-‘Ashr (103): 3 :

“Manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali :

  1. orang-orang yang beriman;
  2. beramal sholeh, dan
  3. berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran”.

  1. Disejajarkan/dideretkan dengan “jihad”

Surat Ali-Imron (3): 142

“Apakah kamu mengira, bahwa kamu akan masuk surga padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang  berjihad  diantaramu dan belum nyata  orang-orang  yang sabar?”.

Jadi menurut ayat di atas, orang yang masuk surga ialah orang-orang yang berjihad dan yang sabar.

–       Dari kutipan ayat-ayat di atas terlihat, bahwa  kesukaan Allah kepada orang yang sabar, sama halnya atau  disejajarkan dengan kesukaan Allah kepada orang yang  beriman, yang taqwa, yang melakukan shalat dan yang berjihad.

–       Kesukaan  Allah itu diwujudkan dengan janji-janji  Allah  kepada orang yang sabar, yaitu :.

  1. akan mendapat “pertolongan” (lihat Q.S. Al-Baqoroh  :  153 di atas);.
  2. akan mendapat : (1) “shalawat” (keberkatan yang  sempurna), (2) “rahmat” (kasih sayang) dan (3) “hidayah”  (menjadi orang yang “muhtadiin“, yaitu orang yang dituntun dengan hidayah/ petunjuk Allah); lihat Q.S. Al-Baqoroh: 155 jo. 157;
  3. akan mendapat “ampunan dan pahala yang besar” :

–      Q.S. Al-Qoshash (28): 80

“Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar.”

–      Q.S. Az-Zumar (39): 10 :

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. Bertak-walah kepada Tuhanmu.” Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas “.

Jadi hanya dengan kesabaran, kita dapat memperoleh  manfaat  (pahala) dari bumi Allah  yang  maha  luas ini.

  1. akan mendapat “surga dan tempat kesudahan yang  baik”

–      lihat Q.S.. Ar-Ra’d:22 di atas;

–      Q.S. Ali-Imron:  142;

–      Q.S. An-Naazi’aat (79): 40-41 :

“40. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, 41. maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)”.

  1. Allah akan memberikan “sifat-sifat yang baik” :

–      Q.S.. Al-Fushilat (41) : 35 :

“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar”.

Kesimpulan :

  • “Sabar” mempunyai kedudukan yang sangat penting dan  sangat  diperlukan  dalam kehidupan  dan  pembangunan nasional.
  • Di dalam “kesabaran” (kehalusan/kelembutan hati) terkandung “kekuatan maha besar”.
  • Oleh karena itu perlu dilatih dan diraih di dalam  bulan Ramadhan ini.

C.Bagaimana melatih dan meraih “sabar”?

–      Allahlah yang menciptakan manusia beserta hawa nafsunya, oleh  karena itu Allah pulalah yang maha tahu bagaimana melatih /mengendalikan hawa nafsu manusia itu, yaitu  lewat sarana / metode puasa.

–      Banyak  aspek latihan pengendalian hawa nafsu  di  dalam  puasa, antara lain :

  1. latihan pengendalian nafsu perut (makan/minum) :

–      menahan makan/minum nampaknya sederhana, tetapi sebenarnya mengandung ajaran akhlak yang mulia dan sangat luas jangkauannya, karena yang dilatih adalah pengendalian nafsu terhadap sumber kehidupan dan kekuatan;

–      Makan/minum merupakan sumber kehidupan dan  kekuatan; jadi merupakan kebutuhan primer. Makhluk apapun membutuhkan makan dan minum.

Nafsu untuk memenuhi kebutuhan primer ini perlu dikendalikan, karena terkadang manusia lupa diri :

  • tidak tahu mana yang halal dan haram;
  • mengutamakan perut/kepentingannya sendiri, sehingga rela mengorbankan/merugikan orang lain dsb.
  • bahwa, diisi apapun perut tidak akan penuh-penuh;  artinya tuntutan perut tidak akan habis-habisnya.

–      Hawa nafsu terhadap tuntutan perut inilah yang perlu  dikendalikan, karena dari sinilah dapat  timbul tuntutan dan cinta yang berkelebihan terhadap materi (Catatan: – tuntutan perut merupakan simbol dari  tuntutan yang bersifat materialistik).

Tuntutan perut yang berkelebihan/ tidak  terkendali,  dapat menjadi sumber kejahatan & mala petaka,  a.l. membunuh, merampok, korupsi, menipu dsb. Bahkan peperangan antara bangsa dapat terjadi karena tuntutan perut/materi. Perang dagang pada hakikatnya  perang perut.

  1. melatih kepatuhan pada perintah/kemauan Allah  (menekan kemauan/ nafsu pribadi).

Latihan menundukkan diri sendiri di dalam puasa, a.l. terlihat dari hal-hal sbb. :

–      di malam hari disuruh shalat malam/tarawih;

–      disuruh bangun sahur, walaupun hanya minum  seteguk air; dan disuruh mempercepat ber-“buka” apabila saatnya telah tiba, walaupun masih  terasa kenyang; Jadi,  yang dipentingkan bukan nilai  sahur/ bukanya (yaitu disuruh makan/minum) atau nilai  fisik/materielnya, tetapi yang dipentingkan di sini ialah nilai “didikan batiniah”-nya, yaitu “menundukkan nafsu-nafsu pribadi” (a.l. sebetulnya ingin tetap  tidur, tetapi disuruh bangun sahur; sebetulnya  tidak lapar/haus, tetapi disuruh makan/minum;  sebetulnya ingin makan/minum, tetapi tidak boleh walaupun  barang itu miliknya sendiri dan halal; dsb.).

Jadi, nilai kepatuhan dan kesabaran menjalankan perintah Allah inilah yang dilatih di dalam puasa.

–      di siang hari selama menjalankan puasa, juga dilatih menahan diri dari emosi/nafsu amarah, berdusta, menggunjing/ngrasani dan perbuatan-perbuatan tercela lainnya; yang dilatih berpuasa/ menahan diri  tidak hanya perut, tetapi semua panca indera lainnya;

–      selama bulan puasa sangat dianjurkan banyak membaca atau  mempelajari Al-Qur’an, beramal,  berinfaq/ shodaqoh dsb.