MEMAHAMI MAKNA KEIMANAN DALAM MENGHADAPI ERA INFORMASI (Ceramah Bag.5)

Posted on August 18, 2010

0


keimanan

  1. Judul  asli yang ditetapkan Panitia untuk ceramah  tarawih kali ini ialah : “Memahami Makna Keimanan Yang  Berdimensi Luas Dalam Menghadapi Era Informasi”.

Memahami makna keimanan dalam dimensi luas, dapat  diartikan melakukan “pengkajian terhadap nilai-nilai keagamaan/keimanan  yang bertolak  dari ajaran-ajaran/konsep-konsep Al-Qur’an”,  karena salah satu aspek keimanan adalah  iman terhadap  Kitabullah.  Sehubungan dengan judul yang  ditetapkan panitia, maka pengkajian/pemahaman nilai-nilai keimanan terhadap konsep/ajaran Al-Qur’an ini tentunya  difokuskan pada hal-hal yang berhubungan dengan  beberapa masalah/aspek yang ada di dalam era informasi saat ini.

2.  Pengkajian/pemahaman terhadap informasi-informasi tuntunan  yang terdapat di dalam Al-Qur’an, memang sewajarnya dilakukan,       karena berbagai alasan :

  1. Di bulan Ramadhan memang sangat dianjurkan banyak  membaca/mempelajari/menelaah  Al-Qur’an, karena di bulan  Ramadhan inilah Al-Qur’an pertama kali diturunkan;
  2. Banyak firman Allah di dalam Al-Qur’an yang secara halus menegur kita untuk mempelajari Al-Qur’an, a.l. :

Al-Waqiah:81:

“Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al-Qur’an ini?”

Al-Qomar: 17,22,32,40 :

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”

Al-Anbiya’:10 :

“Sesungguhnya telah Kami turunkan kepadamu sebuah Kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tidak memahaminya?”

– Dan  di dalam Q.S. Al-Fathir:29 Allah sendiri menya-takan  bahwa “yatluuna Kitabullah” (membaca/mem-pelajari/melakukan telaah terhadap Kitabullah/Al-Qur’an) merupakan salah satu “bentuk  kegiatan/ perniagaan  yang tidak akan merugi”.

  1. Di dalam era informasi yang canggih saat ini,  menggali dan memahami informasi Al-Qur’an sangat penting untuk mengimbangi gelombang informasi global (yang bersifat  duniawi). Informasi duniawi yang tidak diimbangi dengan informasi imani/ilahi, dikhawatirkan bukan membawa  kebaikan dan kesejahteraan, tetapi justru dapat membawa kehancuran.

  1. Informasi Al-Qur’an yang mengandung berbagai petunjuk  hidup merupakan bagian dari keleng-kapan/kebutuhan hidup  yang diberikan/disediakan Allah kepada manusia. Di dalam surat Ar-Rum: 40 dinyatakan, bahwa Allah tidak hanya “menciptakan” manusia (“kholaqokum“), tetapi juga “memberinya rizki” (“rozaqokum“), kemudian “mematikannya” (“yumiitukum“) dan kemudian “menghidupkannya kembali” (“yuhyiikum“) untuk dimintai pertanggung-jawaban.

Jadi Allah tidak hanya sekedar mencipta manusia, tetapi juga memberinya rizki atau “memberi dukungan” (karena kata “rozaqo” dapat berarti “to support“)  atau juga “memberi sarana/keperluan hidup” (karena kata rizki  atau “rizqun” dapat juga mengandung arti “means  of living“). Dukungan atau keperluan hidup yang  diberikan Allah kepada manusia, tidak hanya yang bersifat  materi (bumi/alam semesta dan segala isinya) tetapi juga  yang bersifat immaterial yaitu berupa konsep/tuntunan hidup.

Oleh karena itu, manusia tidak hanya dituntut untuk “memahami/menggali bumi, alam semesta dan segala  isinya”, tetapi  juga perlu “memahami dan  menggali  nilai-nilai konsep kehidupan/petunjuk hidup yang ada di dalam Kitabullah (Al-Qur’an)”. Dengan perkataan lain,  informasi  yang perlu digali dan dipahami tidak hanya informasi tentang dunia dan alam semesta (informasi global dan planetal), tidak hanya informasi duniawi mengenai situasi politik, ekonomi/bisnis,  perkembangan  teknologi  dsb.,  tetapi juga perlu di-gali dan dipahami informasi tentang konsep kehidupan (pedoman/petunjuk hidup).

  1. Sehubungan dengan judul ceramah, masalahnya ialah informasi tentang konsep kehidupan (pedoman/petun-juk hidup)  atau informasi tentang nilai-nilai keimanan/ keagamaan  apakah yang perlu dikaji dan dipahami dalam menghadapi “era informasi”? Untuk mengkaji masalah ini, perlu kiranya  terlebih dahulu  dikaji dan dipahami beberapa aspek  atau  masalah yang berhubungan dengan “era informasi” ini.
    1. Telah sama dimaklumi, bahwa era informasi merupakan salah satu karakteristik dari era masa kini yang  berkembang  sangat pesat seiring dengan  berkembang  pesatnya bidang komunikasi dan teknologi.  Perkembangannya sedemikian rupa sehingga informasi merupakan salah satu sumber  “kekuatan/kekuasaan” (“power”) tersendiri.  Mereka yang tidak mengikuti dan menguasai informasi akan selalu tertinggal atau bahkan mudah tersisihkan dalam  persaingan  dan pergumulan hidup. Tidak jarang pula  suatu strategi  dan policy dengan mudah dihancurkan/ diporak-perandakan lewat perang informasi dan sistem komunikasi yang canggih. Demikian gambaran umum mengenai  pengaruh kekuatan informasi.
    2. Dengan semakin pesatnya kemajuan alat-alat  teknologi dan sistem komunikasi, kekuatan  penyebaran informasi saat ini sangat luas jangkauannya, bersifat transnasional  (melampaui batas-batas negara), sangat  cepat  dan sangat  bervariasi bentuk dan macamnya. Hal  ini  jelas mengandung aspek positif dan juga aspek negatif.

Memperhatikan  kondisi  era informasi yang  demikian  itu, mungkin tidak mudah lagi membendung  gelombang  informasi global. Yang perlu diwaspadai adalah informasi yang dapat membawa dampak negatif. Dengan semakin berkembang pesatnya teknologi informasi dan komunikasi lewat teknologi satelit global, radar parabola, telepon genggam dan alat-alat lain nya yang sangat canggih, dapatlah dikatakan bahwa informasi negatif atau yang tidak benar dan menyesat-kan dapat merupakan  gelombang virus yang sangat berbahaya bagi  kehidupan pribadi dan keluarga, bahkan bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Betapa tidak, karena informasi  yang semula dianggap tabu dan sangat  tercela,  atau setidak-tidaknya bersifat rahasia dan “belum saatnya diketahui”  (a.l. bacaan/ film-film cabul, porno, adegan  tidak sopan/ tidak susila dan merangsang, serta adegan-adegan kekerasan,  sadis/brutal dan bersifat antisosial),  sekarang dengan mudah informasi itu dapat diperoleh.  Seberapa  jauh jumlah dan pengaruh informasi  negatif  itu  berada  di sekitar kita memang memerlukan penelitian  akurat.  Namun beberapa informasi mengenai hal ini  dapat  diungkapkan sbb. :

  1. Penelitian  yang pernah dilakukan oleh  DIA-YKAI  (Data  Informasi Anak – Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia),  bekerja  sama dengan LITBANG Dep. Penerangan,  mengenai  film-film  untuk anak yang ditayangkan lewat 4  (empat) stasiun TV (TVRI, TVRI Program 2, RCTI dan TPI), antara lain mengungkapkan data bahwa (disarikan dari media Informasi  Tentang ANAK, terbitan DIA-YKAI Jakarta, edisi  No. 20, Oktober 1993, halaman 10 dan 15):
    1. Dari 195 episode film yang diteliti (Pebruari 1993),  ternyata adegan yang bersifat “antisosial” (ada 2063 adegan)   lebih   banyak  daripada   yang   bersifat  “prososial” (ada 1904 adegan);
    2. Dari  4 stasiun TV yang diteliti, 3  stasiun  (yaitu TVRI Program 2, RCTI dan TPI) menyajikan film  untuk anak  yang isinya lebih ba-nyak  bersifat  antisosial (walaupun selisihnya hanya sekitar 1 %  dibandingkan adegan yang “prososial”);
    3. Film-film  untuk anak yang paling banyak  mengandung adegan “anti-sosial” ialah yang berasal dari  Amerika Serikat  (yaitu 11,37 % ber-sifat  antisosial  dan 9,60 % bersifat prososial).

  1. Pernah pula seorang Dosen wanita dari Surabaya  (UNAIR) yang mengambil program S2 di UI Jakarta, dalam  thesisnya mengenai “Tindak Pidana Porno-grafi” menyajikan data penelitian,  bahwa  acara-acara  yang  disajikan  lewat  TVRI,  TPI  dan  SCTV, sebagian besar  (85  %)  dinilai “tidak sopan/ tidak susila” menurut pandangan masyarakat  di  tempat/lokasi penelitian dilakukan (Bangkalan,  Madura);

  1. Seminar  mengenai  “Fungsi  dan  Tanggungjawab   Sosial  Pemberitaan  Kejahatan  di Media Masa”  pada  tgl.  4-5 Maret 1991 antara lain merangkum hal-hal sbb.  (disarikan dari “Kriminalitas Dalam Surat Kabar”, Penerbit Antar Kota, 1991, hal. 117 dst.) :
    1. Meskipun  studi  lapangan  tentang  manfaat  positif maupun  dampak  negatif dari  pemberitaan  kejahatan  oleh media massa terhadap ma-syarakat secara  relatif  amat jarang dilakukan, para pakar berpendapat  bahwa terdapat  lebih banyak dampak  negatifnya  ketimbang manfaat positifnya;
    2. Di  antara dampak negatifnya a.l.  dapat membe-rikan dorongan melakukan kejahatan dan menim-bulkan kekebalan  pembaca  sehingga tidak lagi  memiliki  kepekaan sosial;
    3. Pemberitaan tentang kejahatan, seks  dan  keke-rasan merupakan menu utama yang mewarnai pemberitaan kejahatan di media cetak;
    4. Pemberitaan kejahatan dalam pers lebih banyak melaksanakan  fungsi “to inform” (memberi infor-masi)  dan “to entertain” (menghibur) daripada tugas “to educate” (mendidik), “to activate” (menggerakkan) dan “to protect” (melindungi korban/saksi);
    5. 5. Dalam pemberitaan kejahatan, pers masih dianggap sebagai “problem makers” ketimbang “problem solvers”.

  1. Kemajuan  teknologi informasi dan  telekomunikasi  juga nampaknya berpengaruh pada perkembangan dunia kejahatan saat ini. Mudah dan cepatnya informasi/komunikasi saat ini sangat menunjang lajunya perekonomian dunia. Keterjalinan dan ketergantungan tata sosial ekonomi nasional dengan tata sosial ekonomi dunia/internasional, sangat mempengaruhi kecenderungan terjadinya interna-sionalisasi kejahatan. Ruang lingkup operasional dan dimensi kejahatan saat ini, terutama kejahatan ekonomi  (economic crime) dan kejahatan yang menggunakan kemajuan teknologi (Hitech crime), sudah bersifat “transnasional”, melampaui batas-batas negara. Keprihatinan terhadap  perkembangan   yang  demikian  selalu  diungkapkan dalam Kongres-kongres PBB  mengenai “The Prevention of  Crime and the Treatment of Offenders”. Misal dalam salah satu  pertimbangan  putusan Kongres ke-7 th. 1985  (khususnya putusan  mengenai  “Guiding  Principles for Crime  Prevention and Criminal Justice in the Context of Development and a New International Economic Order“), antara lain ditegaskan :

…..  that the international and national  economic  and social orders are closely related and are becoming more and more interdependent and that, as a growing  sociopolitical problem, crime  may  transcend national boundaries.

Mengenai kejahatan yang berhubungan  dengan  teknologi komputer, Kongres PBB ke-8 (1990) antara lain menyatakan :

“pertumbuhan pemanfaatan teknologi komputer dan  jaringan telekomunikasi dan komputer yang sangat luas sebagai bagian integral dari operasi/kegiatan-kegiatan di bidang keuangan dan perbankan secara internasional saat ini, dapat juga menciptakan  kondisi-kondisi yang menunjang aktivitas kejahatan di dalam maupun di antara berbagai negara;

(“the  growing utilization of  computer  technology and  world-wide computer and telecomunication  networks as an integral part of contemporary  international  financial and banking operations  can  also create conditions that greatly facilitate  criminal  operations within and between countries”).

Sehubungan dengan kebutuhan serba cepat dan  praktis,  dunia perekonomian saat ini memanfaatkan teknologi komputer  dan elektronik yang dikenal de-ngan EFTS  (“Electronic Funds Transfer System“). Menurut August  Bequai,  EFTS ialah “pengiriman data yang berhubungan dengan pemindahan dana melalui jaringan komunikasi” (“the transmission of data regarding fund transfer over communication network“). Adanya EFTS ini, menurut August Bequai, juga membantu semakin berkembangnya  internasionalisasi kejahatan (August Bequai,  White-collar  Crime: A 20th- Century Crisis, 1978, hal. 164 dan 169).

Jadi secara singkat dapat dikatakan, bahwa perkem-bangan kemajuan informasi bisnis/ekonomi dan informasi teknologi yang bersifat global/transnasional, juga dapat mempunyai dampak pada perkembangan kejahatan ekonomi dan kejahatan teknologi yang juga bersifat  transnasional/internasional.

4.  Memperhatikan berbagai fenomena dampak negatif dari era informasi dan komunikasi seperti diungkapkan di atas,  dapat dibayangkan betapa beratnya tantangan nilai-nilai keimanan (kematangan kejiwaan/emosional dan kematangan “pengendalian diri”) saat ini. Menghadapi era informasi yang  nampaknya sulit dibendung itu, jelas diperlukan peningkatan  kema-tangan kejiwaan/rohaniah, kematangan emosional dan kematangan “pengendalian diri” sebagai penangkal utamanya. Tepatlah apabila bulan Ramadhan ini dijadikan sebagai sarana dan sekaligus pusat proses pemadatan dan peningkatan kembali energi kematangan kejiwaan/rohani (kematangan iman  dan taqwa)  yang akan membuahkan kematangan  “pengendalian diri”. Tepat pulalah tema kajian yang ditetapkan panitia untuk malam ini, yaitu “memahami makna keimanan dalam menghadapi era informasi”. Apabila kita tidak memahami dengan baik (dalam arti menghayati dan memperteguh) nilai-nilai keimanan, tidak mustahil kita terbawa hanyut dan  terjerumus ke dalam sisi-sisi dampak negatif dari era informasi  yang antara lain telah dikemukakan di atas. Misalnya :

  1. Dengan sarana informasi/komunikasi yang canggih saat ini, seseorang yang kadar imannya lemah mungkin saja menyampaikan informasi-informasi negatif antara lain “ngrasani”, membicarakan/ menyebar aib orang, menyebarkan  kedustaan dan fitnah dsb.  Hal demikian tidak seharusnya dilakukan bagi orang yang  kadar imannya cukup kuat, karena Al-Qur’an menyatakan :

Al-Hujurot: 12 :

–   Hai orang-orang beriman,  jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa,

–   dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan (aib/ rahasia) orang lain,

–   dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain;

Al-Baqoroh: 191 :

”wal fitnatu asyaddu minal qatl”

(dan fitnah itu lebih besar (bahayanya) dari pembunuhan);

Al-Baqoroh: 217 :

wal fitnatu akbaru minal qatl”

(Fitnah itu lebih besar (dosanya) dari pembunuhan);

Fitnah dikatakan lebih besar/lebih keji dari pembu-nuhan karena melakukan fitnah itu dalam Al-Qur’an diidentikkan juga dengan “kafir” (Al-Anfal:39) dan “syirik” (An-Nisaa’: 91). Di samping itu, korban fitnah dapat lebih banyak dan lebih luas daripada korban pembunuhan.

  1. Kehidupan  modern dengan berbagai informasi bisnis dan  teknologi (lewat iklan), cenderung mengarah pada terbentuknya pola hidup yang berorientasi pada nilai-nilai materialistik, individualistik dan konsume-risme. Menghadapi kondisi kehidupan yang demikian, tidak mustahil bagi yang lemah imannya terjangkit penyakit “cemburu/iri-hati/berprasangka buruk” ter-hadap kelebihan materi/rizki  orang  lain; mengalami tekanan  kejiwaan atau “stress” yang  sangat  berat;  atau  melakukan perbuatan-perbuatan nekad, me-nempuh jalan pintas (“budaya menerabas”) untuk mencapai tujuan tertentu.

Dampak negatif demikian dapat kiranya ditangkal, sekiranya  kita memahami dan menghayati nilai keimanan  yang terkandung dalam tuntunan Al-Qur’an, surat An-Nisaa’: 32 :

Dan janganlah kamu irihati terhadap apa yang dikaruniakan/ ditetapkan Allah kepada sebagian kamu lebih dari sebagian yang lain, (karena)  bagi orang laki-laki dan perempuan ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu “.

Dalam  ayat di atas digunakan kata-kata  “fadhdho-lallaah” (yang ditetapkan/dilebihkan Allah). Kata “fadhola” atau “afdhol” secara harfiah dapat berarti “ditetapkan”  (to remain) atau “lebih baik” (better than). Apa “yang ditetapkan” atau “dilebihkan” Allah itu dapat berupa “rizki harta/kekayaan, pangkat/kedudukan, ilmu/gelar, kecantikan/ ketampanan dsb.”.

Jadi  ajaran keimanan menuntun kita untuk  tidak  perlu iri terhadap kelebihan orang lain; dan oleh karena  itu tidak  perlu  stress dan tidak  perlu  mengambil  jalan pintas dengan melakukan perbuatan tidak terpuji.

Sebaliknya, bagi orang yang mendapat  “kelebihan rizki” dari Allah, agama juga memberikan tuntunan untuk  tidak terlalu individualistik, tetapi harus juga memberikan/meratakan rizkinya kepada orang lain yang berhak.  Perhatikan misalnya tuntunan di dalam Q.S. An-Nahl: 71:

“Dan Allah “melebihkan” sebagian kamu dari yg. lain dalam hal rizki, tetapi orang-orang yg. dilebihkan (rizkinya) itu tidak mau memberikan kepada budak-budak yang mereka miliki (bisa dibaca: “karyawan”, pen.) agar mereka sama (merasakan) rizki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?”.

Di samping itu, banyak firman Allah di dalam Al-Qur’an  (lihat a.l. Al-Baqoroh: 177, Ar-Rum: 38, Al-Isro”:26) yang menyuruh kita menginfakkan sebagian harta/rizki kepada:

–      orang tua (ibu-bapak), keluarga/kerabat dekat,  anak yatim, fakir miskin, musafir (orang yang membutuh-kan pertolongan) dsb.;  dan

–      jangan menghambur-hamburkan harta (boros).

  1. Dunia informasi saat ini tidak dapat lepas dari perkembangan globalisasi ekonomi, persaingan meraih  pasaran/peminat/keuntungan  sebesar-besar-nya. Tanpa landasan iman  yang kuat, tidak mustahil untuk meraih  keuntungan yang   sebesar-besarnya  itu,  orang  lalu   memberikan informasi (lewat iklan) yang berlebih-lebihan,  melakukan  persaingan curang, atau memproduksi  barang-barang yang  dapat merugikan/merusak/membahayakan  orang  lain dsb.
  2. Dengan berbagai informasi yang dapat merangsang emosi-emosi negatif di bidang seksualitas, tindakan  a-susila dan tindakan brutal/sadis, dapat saja orang yang  lemah imannya  terhanyut ke arah perbuatan-perbuatan  negatif  itu.

5.  Akhirnya, marilah kita manfaatkan benar-benar bulan  Ramadhan  ini  sebagai sarana dan  pusat  pemantapan/ pemadatan kembali  nilai-nilai  keimanan  dan  “pengen-dalian  diri”, dengan penuh kesungguhan dan perhi-tungan (“imanan wahtisaaban“)  serta dengan penuh “kesabaran dalam  mencari  ridho Allah”. Karena Iman yang berada dalam hati merupakan kunci atau modal utama seseorang untuk menjadi manusia sejati. Baik buruk perilaku kita tergantung seberapa besar iman kita kepada Allah.  Maha Besar Allah yang telah menjadikan bulan Ramadhan sebagai salah satu sub-sistem yang integral dari keseluruhan sistem/konsep Allah dalam memelihara kualitas  kemanusiaan, kualitas hidup dan kehidupan, atau kualitas kemasyarakatan dan lingkungan hidup yang sehat dan bermakna.

Allahlah  yang  maha tahu bahwa kualitas  kemanusiaan  dan kemasyarakatan itu memang dapat “melemah/ memudar”, oleh karena itulah diadakan Ramadhan (kewajiban puasa) sebagai suatu proses/mekanisme “Recycling/Rejuvenation/Regeneration/Re-inforcement/ Reconstruction/Reinjection/Re-formation”; bahkan seba-gai sarana reformasi total.