MANFAAT RAMADHAN BAGI UPAYA TEGAKNYA KEADILAN (Ceramah Bag.12)

Posted on August 18, 2010

0


puasa pic

1.  Topik yang ditetapkan panitia kepada saya untuk KULTUM Ramadhan kali ini berjudul “Manfaat Tegaknya Keadilan”. Judul demikian terkesan terlalu umum atau seperti topik untuk ceramah umum di bidang hukum, sehingga tidak terkesan kaitannya dengan karakteristik Ramadhan yang biasanya berkisar pada kajian masalah “puasa” dan kajian masalah “Al Quran”. Oleh karena itu, agar terkesan ada kaitannya dengan tema Ramadhan, maka judul yang ditetapkan panitia itu saya ubah sedikit, menjadi “MANFAAT RAMADHAN BAGI UPAYA TEGAKNYA KEADILAN”.

2.  Manfaat tegaknya keadilan bagi manusia dan kehi-dupan, sudah jelas, karena keadilan merupakan salah satu kebutuhan manusia. MAHA BESAR ALLAH yang Maha Mengetahui kebutuhan manusia akan keadilan itu, sehingga banyak ayat di dalam Al Qur’an yang memerintahkan manusia berlaku adil dalam segala hal, walaupun akan merugikan diri sendiri. Di antara ayat-ayat itu, antara lain :

  1. a. QS. 16 (An-Nahl): 90

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada Kaum kerabat, dan melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”

b. QS.4 (An-Nisaa’): 58

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

  1. c. QS.4 (An-Nisaa’): 135

Intinya :

  1. “Jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri, ibu bapamu, dan kaum kerabatmu”;
  2. “Janganlah kamu mengikuti hawa nafsumu karena ingin menyimpang dari kebenaran/keadilan”.

d. QS. Al-Maidah: 8

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”.

  1. e. QS.42 (Asy-Syuura): 15

Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: “Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita).”

Dari ayat di atas, khususnya yang berbunyi:

“Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. Allah lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami, dan bagi kamu amal-amal kamu. ……”,

jelas terlihat bahwa perlakuan adil wajib ditegakkan terhadap siapa saja, kendati terhadap orang yang tidak seagama (berlainan agama).

3.  Manusia tidak hanya butuh sesuatu yang bersifat materiel, tetapi juga yang bersifat immateriel (non bendawi). Manusia tidak hanya butuh kesejahteraan lahiriah (materiel), tetapi juga butuh kesejahteraan batiniah (immateriel). Oleh karena itulah sering dinya-takan, bahwa pembangunan nasional tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas masyarakat (lingkungan hidup dan kehidupan) secara materiel, tetapi juga secara immateriel. Kehidupan makmur dan berkecukupan secara materiel bukanlah jaminan untuk adanya lingkungan kehidupan yang berkualitas dan menyenang-kan. Apabila di dalam masyarakat tidak ada rasa aman akan perlindungan hak-hak asasinya, tidak ada jaminan perlakuan yang adil, tidak ada saling kepercayaan dan kasih sayang antar sesama, banyak ketidakjujuran, ketidakbenaran, dan penyalahgunaan kekuasaan di berbagai bidang kehidupan (politik, sosial, ekonomi, dsb.), maka kondisi masyarakat demikian jelas bukan kondisi masyarakat yang berkualitas/menyenangkan.

4.  Beberapa aspek immateriel yang dikemukakan di atas, merupakan kebutuhan rokhani dan sosial budaya manusia yang sangat mendasar. Kebutuhan rokhani dan sosial budaya yang mendasar itulah yang seyogyanya menjadi sasaran pembangunan dan penegakan hukum, karena sangat diperlukan untuk menjamin adanya kualitas lingkungan hidup yang sehat dan bermakna. Apabila kebutuhan sosial budaya yang sangat fundamental itu tidak terjamin atau tidak terpenuhi, maka akan timbul frustasi, kecemasan dan keresahan dalam kehidupan masyarakat yang pada gilirannya dapat membawa kehancuran eksistensi manusia dan keutuhan masyarakat itu sendiri. Dengan kata lain, tidak terpenuhinya kebutuhan rokhani dan sosial-budaya yang fundamental itu merupakan “sumber polusi” yang dapat menimbukan pencemaran sosial dan budaya yang merupakan bagian dari pencemaran lingkungan.

5.  Uraian di atas ingin menegaskan, bahwa pembangunan  dan penegakan hukum dan keadilan pada hakikatnya merupakan bagian integral dari upaya membangun dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup yang lebih berbudaya dan lebih bermakna. Oleh karena itu, apabila saat ini penegakan hukum dan keadilan dirasakan sedang mengalami penurunan kualitas (berarti kebutuhan immateriel itu tidak terpenuhi), maka wajar dirasakan adanya penurunan/kemerosotan kualitas lingkungan hidup bermasyarakat, antara lain “hilang/ menurunnya nilai keepercayaan, munculnya keresahan/ kecemburuan sosial, kebencian, anarkhi, perbuatan main hakim sendiri” dsb.

6.  Namun  memang harus diakui, bahwa kebutuhan imma-teriel yang berupa keadilan ini, dalam kenyataannya tidak mudah diwujudkan (dipenuhi). Oleh karena itu sering muncul ungkapan ironis, bahwa cukup banyak lembaga/badan peradilan di Indonesia (bahkan di dunia), tetapi tidak banyak keadilan yang dijumpai/ditegakkan. Bahkan ketidakadilan terdapat dimana-mana, tidak hanya di bidang hukum (peradilan), tetapi juga di semua bidang kehidupan. Ada ketidakadilan politik, ketidak-adilan sosial, ketidakadilan ekonomi, ketidak-adilan di bidang pendidikan, di bidang kesempatan kerja, di bidang pemerataan penghasilan/upah, di bidang rumah tangga dsb.

7.  Jadi masalahnya bukan terletak pada apa “manfaat tegaknya keadilan”, tetapi pada “bagaimana keadilan itu ditegakkan”. Dalam konteks Ramadhan, masalahnya adalah “SEJAUH MANA RAMADHAN MAMPU MEM-BERIKAN MANFAAT/SUMBANGAN BAGI UPAYA TEGAKNYA KEADILAN”? atau “SEJAUH MANA PERANAN RAMADHAN DALAM MENUNJANG TEGAKNYA HUKUM DAN KEADILAN”?

Dengan terus menerus melakukan kajian Al-Quran selama Ramadhan, termasuk memahami dan mengha-yati tuntunan Tuhan tentang keadilan sebagaimana dikemukakan di atas, jelas diharapkan dapat menunjang tegaknya “Keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” (seperti ditegaskan dalam Pasal 4 UU Kekuasaan Kehakiman No. 14/1970 jo. No. 35/1999, yang saat ini telah diganti dengan UU No. 4/2004). Terlebih apabila selama Ramadhan dapat diraih nilai-nilai kejujuran, ke-imanan, dan ketaqwaan yang menjadi inti tujuan dan hakikat puasa. Dengan kejujuran, keimanan, dan ketaqwaanlah, keadilan berdasarkan tuntunan Tuhan di atas itu baru dapat dilaksanakan.

Dalam tuntutan Allah di atas antara lain dinyatakan : “tegakkan keadilan walaupun terhadap dirimu sendiri, ibu bapakmu dan kaum kerabatmu” (An-Nisaa’:135). Ini berarti harus ada “kejujuran” dalam menegakkan ke-adilan. Insya Allah nilai/sikap jujur ini dapat diraih melalui puasa, karena orang berpuasa dilatih untuk selalu jujur di hadapan Allah bahwa dirinya berpuasa (tidak makan/ tidak minum dsb.) pada hari itu, walaupun sebenarnya bisa saja dia berlaku tidak jujur dalam berpuasa.