AL-QUR’AN : SUMBER HUKUM, SUMBER “HUDA”, SUMBER “BAYAN” DAN SUMBER “MAW’IDHOH” (Ceramah Bag.11)

Posted on August 18, 2010

0


Al Qur'an dan tasbih

1.  Telah sama dimaklumi,  bahwa ada 2 (dua) karakteristik yang menonjol dari bulan Ramadhan, yaitu :

  1. sebagai bulan diwajibkannya orang beriman untuk “puasa” (Al-Baqoroh: 183); dan
  2. b. sebagai bulan diturunkannya “Al Qur’an” sebagai “petunjuk dan pembeda” (Al-Baqoroh: 185); à “Syahru romadhonal ladzii unzila fiihil qur’anu, hudal linnaasi wa bayyinaatim minal hudaa wal furqon”;

Oleh karena itu wajar dalam kajian ramadhan selalu dibahas hal-hal yang terkait dengan masalah “puasa” dan kajian tentang “Al Qur’an”.

Kedua karakteristik itu seyogyanya menyadarkan kita, bahwa ada 2 (dua) sasaran utama dari proses daur ulang di bulan Ramadhan ini, yaitu mendaur-ulang kualitas “perut” dan kualitas “kepala” kita; kualitas ”hati” (imtaq) dan ”akal”. Maha Besar Allah yang Maha Mengetahui, bahwa organ utama/fital manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya adalah “kepala” dan “perut”, dan oleh karena itu kedua organ fital itu perlu dipelihara kualitasnya (lihat uraian di atas).

2.  Tema kajian yang ditetapkan panitia malam ini adalah “Al Quran dan Hadits sebagai Sumber Hukum”. Penetapan judul demikian, mungkin dikaitkan dengan profesi saya sebagai orang yang berkecimpung di dunia hukum. Namun sebenarnya, dalam konteks dan jiwa Ramadhan, pembicaraan tentang Al Quran dan Al Hadits seyogyanya tidak sekedar sebagai “sumber hukum”, tetapi lebih dari itu, yaitu :

–       sebagai “sumber petunjuk/tuntunan” dalam berkehi-dupan, seperti ditegaskan sendiri oleh Allah dalam surat Al Baqoroh: 185, yaitu sebagai “HUDAL LINNAAS”, dan dalam Q.S. Ali Imron:138 dinyatakan sebagai “BAYANUL LINNAAS” (penerang/penjelas bagi manusia), sebagai “hudal lil-muttaqiin” dan sebagai “maw’idhotul lil-muttaqiin” (pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa).

(Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (Ali Imron:138)

Jadi singkatnya, Al Q merupakan sumber “hudaa” (petunjuk), sumber “bayaan” (penerang), dan sumber “maw’idhoh” (pelajaran).

3.  Al-Qur’an sebagai “hudal linnaas” (petunjuk bagi manusia) mengandung makna yang sangat luas, yaitu sebagai sumber “hudaa” (petunjuk/pedoman/tuntunan) dalam seluruh bidang kehidupan, baik di bidang hukum maupun dalam bidang kehidupan lainnya (bidang politik, sosial, ekonomi, kehidupan pribadi, kehidupan rumah tangga, kehidupan/pergaulan bermasyarakat dan bernegara, bahkan pergaulan/hubungan internasional dan hubungan dengan alam/lingkungan sekitar).

4.  Oleh karena Al-Qur’an seyogyanya menjadi sumber hukum, sumber petunjuk, sumber penerang, dan sumber pelajaran dalam berbagai bidang kehidupan, maka sepan-tasnya kita mempelajari dan mendalami (melaku-kan telaah) terus menerus isi Al-Qur’an dan sumber-sumber lainnya (Al Hadits), terutama di bulan Ramadhan ini. Tidaklah mungkin Al-Qur’an dan Al-Hadits dapat menjadi sumber petunjuk apabila kita sendiri tidak pernah membaca dan mempelajari/mendalaminya, bahkan meremehkannya. Padahal Allah sendiri berfirman di dalam Al-Qur’an antara lain dalam :

  1. a. Al-Waqiah :

Setelah Allah menyatakan “dengan SUMPAH yang BESAR” bahwa Al-Qur’an merupakan “bacaan/kitab/ ilmu yang sangat mulia” (ayat 75-77), selanjutnya Allah berfirman di dalam ayat 81 :

(afabihadzal hadiitsi antum mudhinuun).

“Maka apakah kamu menganggap REMEH saja Al Qur’an ini?”

  1. Dalam surat Thoha: 126 Allah menegaskan, bahwa barangsiapa meremehkan/melupakan Al-Qur’an, maka pada hari akhir nanti Allah pun  akan melupa-kannya/tidak mempedulikan.

  1. Al Qomar: 17, 22, 32, 40 :

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”

  1. Al-Fathir: 29 :

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca/mempelajari Kitab Allah (Al-Qur’an) dan mendirikan shalat, dan menafkahkan secara diam-diam dan terang-terangan sebagian rizki yang Kami anuge-rahkan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”.

5.  Semoga di bulan Ramadhan ini kita diberi kemudahan oleh Allah untuk mempelajari Al-Qur’an sehingga dapat menjadi sumber hukum, sumber “hudaa”, sumber “bayaan”, dan sumber “maw’idhoh” dalam kehidupan sehari-hari. Amien.