AL-QUR’AN DAN UPAYA PENEGAKAN/KEADILAN HUKUM (Ceramah Bag.10)

Posted on August 18, 2010

0


Al Qur'an dan tasbih

1.  Ada dua karakteristik menonjol dari bulan suci Ramadhan sebagaimana disebutkan dalam Q.S. Al-Baqoroh, yaitu :

  1. Ramadhan sebagai bulan puasa (Al-Baqoroh:183); dan
  2. Ramadhan sebagai bulan diturunkannya Al Qur’an (Al-Baqoroh:185).

2.  Mengingat dua karakteristik yang demikian, maka wajar dalam kajian/ceramah ramadhan, tidak hanya dibahas hal-hal yang terkait dengan masalah “puasa”, tetapi juga yang terkait dengan kajian mengenai isi/tuntunan Al Qur’an itu sendiri. Salah satu kajian tentang Al Qur’an yang ditetapkan panitia untuk ceramah Ramadhan kali ini, berjudul “Al Qur’an dan Upaya Penegakan Hukum”.

3.  Pembahasan masalah Al Qur’an dan Penegakan Hukum merupakan masalah yang cukup luas dan tidak dapat dibahas dalam waktu yang relatif sangat singkat (khususnya dalam ceramah KULTUM). Oleh karena itu, dalam kesempatan ini hanya ingin diungkapkan prinsip-prinsip penegakan hukum menurut tuntunan Al Qur’an, antara lain sbb. :

  1. Q.S. An-Nisaa’: 58

“Apabila kamu menghukum (menetapkan hukum) di antara manusia, maka hukumlah dengan adil”.

Ayat ini mengandung prinsip persamaan/tidak diskri-minatif (“equality/indiskriminatif”).

  1. Q.S. An-Nisaa’: 135

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu”.

Ayat ini mengandung prinsip “tidak pilih kasih” (“non-favoritisme dan anti nepotisme”) dan prinsip “tidak berpihak” (“fairness/ impartial”);

  1. Q.S. An-Nisaa’:135

“Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran/keadilan”.

(Dengan istilah lain : “Janganlah karena mengikuti hawa nafsumu, kamu menyimpang dari kebenaran/ keadilan”).

  1. Q.S. Al-Maidah:8

“Janganlah kebencianmu kepada suatu kaum (golongan), mendo-rong/menyebabkan kamu berlaku tidak adil”.

Prinsip yang terkandung dalam sub c dan d di atas adalah, prinsip objektivitas (tidak subjektif).

4.  Berbuat adil merupakan hal yang sangat rahasia dalam benak penegak keadilan. oleh karena itu keadilan tersebut bersumber dari pribadi penegak keadilan itu sendiri. Allah telah mengingatkan bahwa keadilan itu tergantung ketaqwaan seseorang. Dan hanya Allah yang mengetahui terhadap apa yang kita lakukan. Adilkah yang kita lakukan atau tidak adilkah yang kita lakukan. Sebagaimana dalam firman Allah dalam Q.S. Almaidah ayat 8 :

“Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Kesimpulan :

a.  Hukum (kebenaran/keadilan) harus ditegakkan kepada siapa saja dengan tidak berpihak dan tanpa pandang bulu, baik terhadap diri sendiri maupun keluarga (ibu/bapak; atasan), karib kerabat maupun kaum/ golongannya;

b.  Hukum (kebenaran/keadilan) harus ditegak-kan secara objektif dengan menghindari/ menjauhi subjektivitas, baik karena hawa nafsu maupun rasa kebencian.

c.  Keadilan dipengaruhi kadar ketaqwaan seseorang kepada Allah.