AGAMA DAN KEHIDUPAN MANUSIA MODERN (Ceramah Bag.4)

Posted on August 18, 2010

0


agama Islam

  1. Dalam mengisi acara pengajian tarawih ini,  Panitia  Ramadhan Masjid Diponegoro meminta kepada saya untuk membicarakan masalah “agama dan kehidupan manusia modern”. Sebenarnya agama tidak mem-persoalkan atau membedakan antara kehidupan manusia itu modern atau tradisional (tidak  modern),  karena pada hakikatnya agama (yang diturunkan Allah  lewat Nabi) diperuntukkan sebagai pedoman/tuntunan bagi  manusia dalam segala bentuk kehidupannya, baik dalam kehidupan modern maupun tidak modern. Jadi secara dogmatis seolah-olah memang  dapat dikatakan, bahwa agama (tuntunan  Allah/dari “atas”) yang diturunkan lewat nabi terakhir, diperuntukkan bagi kehidupan manusia segala zaman. Namun demikian  kehidupan manusia yang selalu  tumbuh berkembang dan  berubah-ubah memang dapat menimbulkan permasalahan dalam “membumikan dan mengapli-kasikan” ajaran-ajaran agama. Oleh  karena itu  saya dapat memaklumi permintaan panitia  untuk  dalam kesempatan ini membicarakan masalah “agama dalam kehidupan manusia modern”; walaupun dengan catatan bahwa masalah ini sebenarnya bukan masalah baru. Saya katakan demikian, karena makna dari istilah “kehidupan modern” itu sendiri sebenarnya sangat relatif. Kalau kehidupan masa kini dikatakan sebagai “kehidupan modern”, itu karena dibandingkan dengan kehidupan  masa  lalu  (beberapa  puluh/ ratus  tahun  yang  lalu). Dalam beberapa puluh/ratus  tahun yang akan datang, mungkin kehidupan sekarang yang dikatakan “modern” ini tidak lagi dinyatakan sebagai “modern” karena sudah  ketinggalan  zaman sehingga dinyatakan sebagai  “kehidupan  yang  tertinggal”.  Dengan demikian, kalau makna  atau  kriteria  kehidupan modern hanya dikaitkan/diorientasikan pada  adanya perubahan dan perkembangan kehidupan masyarakat secara lahiriah, maka sebenarnya pada setiap perubahan zaman  dapat dikatakan ada “kehidupan modern”. Tetapi apabila makna dan kriteria “modern” diorientasikan pada ada/tidaknya perubahan pandangan dan sikap hidup, maka belum tentu  kehidupan  masa  kini dikatakan  sebagai  “kehidupan  modern”.  Banyak hal dalam kehidupan masyarakat modern saat ini yang sebenarnya merupakan pandangan dan sikap hidup yang bersifat “jahiliyah”.

  1. Apabila makna dan kriteria “kehidupan modern” diidentikkan dengan adanya “perubahan dan pembaharuan konsep/pemikiran” , maka  kedatangan Islam (dengan Al Qur’an nya) sejak awalnya telah membawa konsep/polapandang modern dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya (yang sering disebut masa “jahiliyah”). Pembaharuan  konsep/pola-pikir/ pola-pandang yang dibawa Islam (Al Qur’an) itu antara lain :
    1. Konsep KeTuhanan :

Konsep ketuhanan di dalam Islam (yaitu konsep tauhid/mengesakan Tuhan) jelas merupakan konsep pembaharuan,  karena sebelumnya berpandangan bahwa  tuhan  itu banyak atau bisa lebih dari satu dan yang dijadikan tuhan itu bukannya Allah sebagai “chaliq” (pencipta) tetapi “machluq” (ciptaan Allah) yang dijadikan tuhan.

  1. Konsep Dosa/Kesalahan :

Islam  mengajarkan, bahwa manusia dilahirkan  suci  dan tidak mengenal “dosa warisan”. Hal ini terlihat  di dalam tuntunan sbb. :

  1. Al Qur’an :
    1. Q.S.. An-Najm : 38 (Q.S.. Al-Isro’ : 15) :

“bahwasanya seorang yang  berdosa tidak akan memikul

dosa orang lain”.

  1. Q.S.. An-Najm : 39 :

“bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”.

  1. Q.S. Al-Mudatsir : 38 :

“tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya”.

  1. Hadits :
    1. “Sesungguhnya anak yang lahir itu tidak dilahirkan kecuali dalam kesucian, maka kedua orang tuanyalah yang membuat anak itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi”.
    2. “Seseorang tidak dihukum (bertanggung jawab) atas  perbuatan ayahnya atau  saudaranya”.
    3. “Setiap orang adalah pemimpin, maka akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpin”.

  1. Konsep Persamaan Hak :

Islam mengajarkan, semua orang berkedudukan  sama;  tidak  membedakan jenis kelaminnya  (laki-laki/wanita),  bangsa, suku/ras, warna kulit, asal keturunan,  pangkat  maupun  kedudukannya. Yang membedakan tinggi  rendahnya kedudukan  manusia  di  mata  Allah  hanyalah  taqwanya (lihat Q.S. Al-Hujurat ayat 13). Di dalam hadits pun dinyatakan, bahwa tidak berbeda antara orang Ajam  (budak belian yang hitam) dengan orang Arab.

  1. Konsep Keilmuan dan Kebebasan Berpikir (Rasio-nalitas):

Terlalu banyak ajaran Islam yang  memberi tempat sangat tinggi pada kedudukan ilmu/akal. Hal ini  jelas  sangat sesuai dengan salah satu karak-teristik kehidupan modern yang antara lain meng-utamakan akal/rasionalitas.

Beberapa catatan :

–         Wahyu pertama saja dimulai dengan “Iqro'” (bacalah); yang  berarti mengutamakan budaya  “membaca”  sebagai  ciri dari budaya keilmuan;

–         Al Qur’an itu diturunkan dengan ilmu Allah (Q.S. Hud : 14) :

“Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu maka ketahuilah, sesungguhnya Al Quran itu diturunkan dengan ilmu Allah, dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)? “.

–         Al Qur’an ini disebut sendiri oleh Allah sebagai  “Al Qur’anul Karim” (“bacaan yang mulia”/ dapat  diartikan sebagai “ilmu/bacaan yang tinggi”); lihat Al-Waqiah : 77 :

“Innahuu laquraanul kariim

(sesungguhnya Al Qur’an itu adalah “bacaan yang sangat mulia”).

–        Dalam Al-Qur’an disebutkan kata “Afala Ta’qilun” (apakah kamu tidak menggunakan akalmu?) sebanyak 24 kali; kata “Afala Ya’qilun” (apakah mereka tidak menggunakan akalnya?) sebanyak 22 kali; kata “Afala Ta’lamun” (apakah engkau tidak mengetahui?) sebanyak 36 kali; kata “Afala Ya’lamun” (apakah mereka tidak mengetahui?) sebanyak 91 kali; kata “Afala Tatafakkarun” (apakah engkau tidak berpikir?) sebanyak 3 kai; kata “Afala yatafakkarun” apakah mereka tidak berpikir sebanyak 91 kali; kata “Afala Tadrusun” (apakah engkau tidak belajar) sebanyak 2. kali. Kata seruan untuk mengerti atau menggunakan akal dalam Al-Qur’an kurang lebih 189 kali.

–        Keputusan/kebijakan Allah tidak semata-mata  didasarkan pada argumentasi kekuasaan absolut, tetapi  didasarkan  pada demokratisasi dan argu-mentasi  keilmuan.

Misal :

–       Sewaktu Allah menciptakan manusia  pertama  (Adam)  sebagai khalifah di bumi terjadi dialog antara  malaikat dengan Allah. Dalam dialog ini ada argumentasi  keilmuan. Secara halus Allah menyatakan  kepada para malaikat :

“Innii a’lamu ma laa ta’lamuun

(Sesungguhnya  Aku  mengetahui  apa  yang  tidak  kamu ketahui). Lihat Al-Baqoroh : 30 s/d 33.

–       Setelah Allah mengemukakan berbagai  kebaikan/ kemuliaan Al-Qur’an (sebagai petunjuk pembawa kebenaran, sebagai penawar dan rahmat, penuh hikmah dan pelajaran, sebagai bacaan yang teramat mulia, dan  tidak  untuk  membuat  kesusahan  manusia),  secara  halus  Allah berdialog (mengajak berpikir) dengan manusia :

–      “Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al-Qur’an ini?”

(Al-Waqiah :81).

–      “Dan sesungguhnya telah  Kami mudahkan Al-Qur’an untuk  pelajaran, maka adakah orang yg. mau mengambil  pelajaran”?

(Al-Qomar: 17,22,32,40)

–      “Sesungguhnya telah Kami  turunkan kepadamu sebuah  Kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tidak memahaminya”?

(Al-Anbiya’: 10).

  1. Konsep Keadilan :

Terlalu banyak ayat-ayat di dalam Al-Qur’an tentang keadilan. Beberapa di antaranya ialah :

–        An-Nisaa’ : 58

“apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil”.

–        An-Nisaa’ : 135

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi Karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu.

Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran/keadilan dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.

–        Al-Maidah : 8

“Hai  orang-orang  beriman,  hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah,  menjadi  saksi  dengan  adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku  tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Memperhatikan tiga ayat di atas saja sudah jelas betapa tingginya konsep Islam mengenai keadilan, yaitu :

  1. Keadilan dan kebenaran harus ditegakkan kepada siapa saja dengan tidak berpihak dan tanpa pandang  bulu, baik terhadap dirinya sendiri mau-pun terhadap keluarganya (ibu/bapaknya), kerabat-nya maupun kaum/golongannya;.
  2. Keadilan dan kebenaran harus ditegakkan secara objektif dengan menghindari hal-hal yang bersifat subjektif, antara lain :   jangan mengikuti hawa nafsu (misal menerima  suap)  dan rasa kebencian untuk berlaku tidak adil.

Konsep baru/modern tentang keadilan yang diajarkan  Islam  hampir  15  abad yang  lalu  itu,  jelas  bersifat  universal, dan di abad modern sekarang ini justru terlihat semakin melemah atau mengalami erosi.

  1. Konsep (Orientasi) Masa Depan :

Salah  satu ciri “modernisme” adalah sikap  mental  yang berorientasi ke masa depan. Hal ini jelas terlihat di dalam ajaran Islam yang menyatakan :

–        bahwa kehidupan/kesenangan akhir (at) lebih baik dari kehidupan/kesenangan awal (di dunia); lihat Q.S. Ali  Imron : 14, Q.S. Al-Mu’min : 39, Q.S. Adh-dhuha : 4;

–        “jangan  menghambur-hamburkan hartamu  secara  boros”  (Q.S. Al-Isro’ : 26);

–        “janganlah  kamu  merajalela di bumi  dengan  membuat kerusakan” (Q.S. Asy-Syu’aro : 183);

Demikianlah beberapa butir konsep Al-Qur’an yang dapat  dikatakan  “modern” pada zamannya, dan saat inipun  masih  dapat  diuji  ke-“modern”-annya.  Masih banyak lagi  konsep  Al-Qur’an yang relevan dengan ciri-ciri sikap mental yang diperlukan dalam kehidupan modern, seperti menghargai waktu atau  dapat memanfaatkan peluang sebaik-baiknya, tekun, rajin  dan bersungguh-sungguh  (berjihad), sederhana dan tidak  boros dsb.

3.  Di sisi lain kehidupan modern itu sendiri memang  memerlukan agama, walaupun memang harus diakui pelaksanaan nilai-nilai dan kaidah-kaidah agama menghadapi “tantangan”  yang cukup berat dalam kehi-dupan modern saat ini.

Telah sama dimaklumi, bahwa kehidupan modern saat ini  ditandai oleh semakin meningkatnya kehidupan yang lebih berorientasi pada nilai-nilai materialistik, individualistik dan  semakin berkembangnya pengaruh globalisasi di  bidang informasi, komunikasi dan teknologi. Tidak jarang persaingan  hidup yang sangat materialistik  dan  individualistik,  menyebabkan  orang  mengalami “stress”,  tekanan kejiwaan yang sangat berat, melakukan perbuatan-perbuatan nekad  atau menempuh jalan-jalan pintas (“budaya menerabas”) untuk  mencapai tujuan. Jelas di sini diperlukan  pendekatan/tuntunan agama. Mengenai “tuntunan agama” ini dapat dikemukakan antara lain hal-hal sbb. :

  1. Dalam kehidupan yang serba materialistik dan individualistik mudah sekali berkembang penyakit “cemburu/irihati/berprasangka buruk”. Dapat diba-yangkan betapa  fatal dan runyamnya akibat yang ditimbulkan oleh sifat iri/cemburu/prasangka buruk seseorang terhadap  “kelebihan”  orang lain. Oleh karena itulah agama memberikan tuntunan, antara lain di dalam Al-Qur’an, surat An-Nisaa’: 32 :

“Dan janganlah kamu irihati  terhadap apa yang ditetapkan/ dilebihkan/dikaruniakan Allah  kepada sebagian kamu lebih dari sebagian yang lain, (karena) bagi orang laki-laki/perempuan ada bagian dari apa yang  mereka usahakan”.

Dalam ayat di atas digunakan kata-kata “fadhdho-lallaah” (yang ditetapkan/dilebihkan Allah). Kata “fadhola” atau “afdhol” secara harfiah dapat berarti “ditetapkan”  (to remain) atau “lebih baik” (better than). Apa “yang  ditetapkan”  atau  “dilebihkan” Allah  itu  dapat  berupa “rizki harta atau kekayaan, derajat/ pangkat/kedudukan,  ilmu/gelar,  kecantikan/ketam-panan dsb.”. Jadi  menurut  firman Allah di atas, kita janganlah iri hati  terhadap kelebihan-kelebihan  yang diberikan Allah kepada  orang lain itu.

Dengan memahami tuntunan agama yang demikian itu, diharapkan orang tidak akan mengalami “stress” dalam menghadapi  kehidupan modern saat ini yang cenderung  lebih materialistik dan individualistik.

  1. Sebaliknya  bagi orang yang mendapat “kelebihan  rizki”  dari  Allah itu, agama juga memberikan banyak  tuntunan agar memberikan/meratakan rizkinya itu kepada orang lain. Perhatikan beberapa firman Allah sbb. :

–        An-Nahl: 71 :

“Dan Allah “melebihkan” sebagian kamu dari yg. lain  dalam hal rizki, tetapi orang-orang yang dilebihkan  (rizkinya) itu tidak mau memberikan kpd. budak-budak  yang mereka miliki agar mereka sama (merasakan) rizki  itu. Mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?”

–        Banyak firman di dalam Al-Qur’an yang menyuruh kita  menyedekahkan sebagian harta/rizki kepada ibu/bapa, keluarga/kerabat dekat, anak yatim, fakir miskin, musafir (orang yang membutuhkan perto-longan) dsb. dan menyedekahkan sebagian harta berfungsi membersihkan harta kita serta itulah harta hakiki yang kita miliki. Lihat  a.l.  surat Al-Baqoroh: 177, 215; Q.S. Ar-Rum: 38, Q.S. Attaubah 103 :

“ambillah sebagian dari hartanya (orang yang mampu) sebagai sedekah yang dapat membersihkan hartanya dan menyucikan hartanya”.

4.  Aspek lain dari “kehidupan modern” saat ini ialah derasnya arus/gelombang informasi seiring dengan semakin canggihnya sarana komunikasi dan teknologi. Dalam kondisi yang demikian, nilai-nilai agama dan keimanan seseorang  benar-benar mendapat ujian dan tantangan yang cukup berat/serius. Memang di satu pihak, pesatnya perkembangan informasi, komunikasi dan teknologi mempunyai pengaruh positif;  namun harus diakui pula bahwa peluang dampak negatifnya juga cukup besar. Dengan semakin canggihnya sarana informasi/komunikasi  dan teknologi saat ini, gelombang  informasi  yang dapat  membawa pengaruh negatif, merusak dan  menyesatkan, dapat merupakan virus berbahaya yang mengancam kepribadian  Islami dan bahkan mengancam kehidupan rumah tangga,  kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Betapa tidak, karena  informasi yang semula dianggap tabu dan sangat tercela  atau  setidak-tidaknya  informasi itu “belum saatnya  diketahui”  (a.l.: bacaan/ film-film cabul/ porno atau setidak-tidaknya  adegan-adegan yang tidak susila dan merangsang; serta adegan-adegan  keke-rasan dan sadis/brutal),  sekarang  dengan mudah dapat diperoleh.

Seberapa jauh jumlah dan pengaruh informasi negatif berada  di  sekitar kita memang perlu penelitian akurat, misalnya jumlah dan pengaruh adegan-adegan film lewat TV.  Pernah  pada tahun 1993, Data Informasi Anak – Yayasan Kesejahteraan  Anak Indonesia (DIA-YKAI) bekerja sama dengan  Litbang  Departemen Penerangan melakukan penelitian terhadap  film-film yang ditujukan untuk anak-anak, dan yang  ditayangkan oleh  4 stasiun televisi (TVRI, TVRI Program 2,  RCTI  dan TPI). Hasilnya a.l. :

  1. Dari 195 episode film yang diteliti, ternyata jumlah adegan yang bersifat “anti-sosial” (ada 2063 adegan)  lebih banyak daripada yang bersifat “prososial” (ada 1904 adegan);
  2. Dari 4 stasiun TV yang diteliti, 3 stasiun (yaitu  TVRI  Program  2,  RCTI dan TPI) menyajikan film  untuk  anak yang isinya lebih banyak bersifat antisosial  (walaupun selisihnya tidak begitu banyak, yaitu sekitar 1 % lebih  banyak dibandingkan adegan yang “prososial”).
  3. Film-film untuk anak yang paling banyak mengandung adegan “antisosial”nya ialah film yang berasal dari Amerika Serikat (yaitu 11,37 % bersifat antisosial, dan 9,60  % bersifat prososial).

Pernah pula seorang Dosen wanita dari Surabaya yang mengambil  program S2 di UI Jakarta, dalam  thesisnya  (mengenai tindak pidana pornografi) menyajikan data penelitian, bahwa acara-acara yang disajikan lewat stasiun TV (TVRI, TPI,  dan SCTV) sebagian besar (85 %) dinilai “tidak sopan/tidak susila” menurut pandangan masyarakat tempat lokasi penelitian dilakukan (Bangkalan, Madura).

Menghadapi era informasi yang demikian itu, jelas diperlukan  peningkatan kematangan kejiwaan/rohaniah,  kematangan emosional  dan kematangan “pengendalian diri”  sebagai penangkal utamanya. Di sinilah arti pentingnya peranan nilai-nilai keagamaan dalam kehi-dupan modern, terutama lewat pemusatan pengendalian diri di bulan puasa Ramadhan. Marilah kita jadikan bulan Ramadhan ini sebagai sarana proses pemadatan dan peningkatan kembali energi kematangan  kejiwaan/ rohani (kematangan iman dan taqwa), di samping  kematangan ilmu dan kematangan sosial/amal, sebagaimana tersimpul dari tuntunan Al-Qur’an surat Al Fathir: 29.