RAMADHAN: BULAN PENUH BAROKAH DAN MAGHFIROH (Ceramah bagian 1)

Posted on August 18, 2010

0


puasa pic

Assalamu’alaikum wr. wb.;

Para jamaah Tarawih/qiyamur Ramadhan;

  1. Marilah kita bersyukur dapat memasuki dan                 menyambut Ramadhan, “tamu agung, penghulu segala bulan” yang telah lama kita tunggu-tunggu kedatangannya. Sepatut-nya kita sambut datangnya Ramadhan ini dengan penuh rasa syukur, karena :

-      kita masih diberi kesempatan untuk memasuki dan  menyambut  bulan ini, padahal mungkin ada di antara kita  yang tidak  berkesempatan menemui bulan Ramadhan ini  (karena telah mendahului kita/mening-gal dunia);

-      kita masih tergolong orang-orang beriman, yang  terpanggil hatinya untuk  melaksanakan perintah wajib puasa sebagaimana disebutkan dalam Q.S. Al-Baqoroh: 183;  sepatutnya hal ini disyukuri, karena ada orang yang  hatinya/imannya tetap beku, tidak mau menjalankan perintah puasa.  Bulan puasa (tamu agung) itu memang telah datang,  tetapi  tidak datang di rumahnya; tidak datang di  hatinya dan di tengah-tengah keluarganya!;

-      tamu  yang datang bukan sekedar tamu biasa, tetapi  tamu istimewa/tamu  agung yang “sangat  pemurah”  (“bloboh“); bulan penuh keberkatan (“syahrun mubarok“) dan penuh pengampunan (“syahrul maghfiroh“);

2.  Ramadhan : Syahrun Mubarok

Dikatakan demikian, karena bulan Ramadhan menjanji-kan banyak barokah, pahala, ganjaran :

  1. Hadits Anas bin Malik, menyatakan antara lain, bahwa dalam bulan Ramadhan

-         mendatangi majlis ilmu : 1 langkah = 1 tahun ibadah;

-         sholat berjamaah : tiap rakaat = 1 kota kenikmatan;

-         taat pada orang tua: mendapat kasih sayang Allah  dan  Nabi menanggung dalam surga;

-         istri mencari keridloan suami : pahalanya seperti Siti A’isyah dan Siti Maryam;

-         mencukupi  kebutuhan saudaranya : akan dicukupi  1000  kebutuhannya di hari Qiyamat;

  1. Di dalam hadits lain dinyatakan a.l. :

-         tidurnya orang berpuasa = ibadah;

-         diamnya  orang berpuasa = tasbih;

-         amalnya orang berpuasa, dilipatgandakan;

-         do’anya  orang berpuasa, dikabulkan; dan

-         dosanya orang berpuasa, diampuni.

  1. Di dalam HR Bukhori a.l. dinyatakan :

-       1 hari puasa = dijauhkan 7 th. dari api neraka;

  1. Di dalam Al Qur’an (Q.S. Qodar) : malam qodar (di bulan puasa) nilainya lebih dari 1000 bulan (lebih dari 83 tahun);

3.  Ramadhan : Syahrul Maghfiroh

*    HR (Hadits Riwayat) Bukhori-Muslim :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ اِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَلَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.

“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan  dengan  keimanan  dan  keikhlasan,  akan  diampuni segala dosa-dosanya”.

Jadi jelas, bulan ramadhan merupakan “bulan Amnesti/Pengampunan” besar-besaran!

*    “Maghfiroh/ampunan”  merupakan kebutuhan fital  manusia, karena dalam 11 bulan yang lalu mungkin tidak terasa  kita telah banyak melakukan dosa dan kelalaian, antara lain:

-     melalaikan sholat dan puasa (mendahulukan yang lain atau  bahkan meninggalkannya sama sekali);

-     segan membaca Al Qur’an, bahkan lebih suka ngobrol, ngrasani, melukai hati orang atau terbiasa mengeluarkan kata kata kotor;

-     lupa bersyukur akan nikmat Allah yang demikian banyak;

-     segan  beramal, menolong fakir miskin atau orang  tua/saudara/ kerabat yang kekurangan;

-     banyak melakukan maksiat-maksiat lainnya, a.l. : durhaka/melawan  orang tua; sering dusta; makan/minum  yang haram; perbuatan tidak senonoh dalam pergaulan  (misal “tangan gratil”); mencari rizki dengan cara-cara kotor  dan tidak terpuji; dsb.

Jadi pada intinya, terlalu banyak mungkin dosa yang  telah kita lakukan, baik sebagai hamba Allah, sebagai anak, sebagai orang  tua, sebagai suami/istri, sebagai tetangga, sebagai buruh, sebagai majikan, pejabat/ pimpinan dsb. Oleh karena itulah kita  butuh “maghfiroh”.

*    Namun  patut dicatat, bahwa “maghfiroh” itu hanya  dapat   diperoleh  lewat puasa dan sholat yang dilakukan  dengan “iimanan wah tisaaban” yaitu :

-     dengan penuh kesungguhan/keyakinan (iman); dan

-     dengan kesabaran/keikhlasan, semata-mata  menca-ri keridhoan Allah.

Di dalam Q.S. Ar-Ra’d: 22 dinyatakan, bahwa  orang-orang yang “bersabar karena mencari keridhoan Allah”

(“walladziina shobarub tighooa wajhi robbihim“)

termasuk  salah satu  dari “mereka yang mendapat tempat  kesudahan  yang baik”

(“ulaaika lahum ‘uqbad daar“)

Oleh  karena itu, marilah kita bersabar di dalam  menjalankan ibadah  puasa dan sabar di dalam menjalankan  ibadah  shalat, termasuk tarawih (sholatul lail), dan amalan-amalan puasa lainnya. Semoga kita termasuk “orang-orang yang mendapat tempat kesudahan yang baik” sebagaimana dijanjikan Allah di dalam surat Ar-Ra’d di atas. Amiin.

-v-